Jika melihat lalu lalang orang yang berhijab, saya yakin
dibalik hijabnya itu pasti ada cerita tersendiri yang berkesan di benak mereka. Berkesan karena
mampu menggetarkan jiwa dan menggerakan akal, pikiran serta raga untuk mau
mengenakan hijab.
Saya pun ‘dulu’ sama seperti mereka. Yang tak langsung mau
ketika diberikan dalil-dalil tentang kewajiban berjilbab bagi seorang wanita.
Namun, hidayah yang Allah berikan itu sungguh unik dan tak
terduga. Taukah anda? Inspirasi saya datangnya dari sebuah analogi kue. Analogi yang membuat hati saya mencelos alias makjleb.
***
Saya masih ingat tentang pengalaman ini.
Lulus SD saya mengikuti tes masuk ke beberapa SMP Negeri di
Sidoarjo. Tapi ‘anehnya’ saya sama sekali tidak lolos satupun disana. Takdir Allah
berkata lain, ternyata Allah menghendaki saya untuk masuk ke salah satu SMP
Swasta Islam yang cukup terkenal di kota saya ini. Alhasil, mau tak mau saya harus mengikuti aturan mereka.
Mengenakan jilbab sebagai seragam sekolah sehari-hari.
Sumpek. Panas. Jadul. Ribet.
Itu anggapan saya ketika pertama kali pake jilbab.
Saat itu
saya butuh waktu sekitar 15 menit untuk bisa mengenakan jilbab dengan rapi. Dan
jujur saja, saat itu saya masih memakainya dalam keadaan terpaksa. Karena
selepas sekolah, ketika jalan-jalan dengan teman ataupun keluarga, saya
menanggalkan jilbab yang saya kenakan.
Apakah hal ini aneh? Haha... Menjadi anak SMP adalah masa dimana kita masihlah suka untuk meng-explore berbagai macam gaya rambut, memasang jepitan yang lucu-lucu, menguncir dibagian sana-sini, berpenampilan semenarik mungkin untuk menarik perhatian lawan jenis. Bukankah begitu? Tak perlu malu, karena dulunya saya juga begitu. Hehe..
Bagi saya, ngapain sih kita harus susah-susah pake jilbab untuk menutupi keindahan rambut kita? Ya, itu anggapan saya dulu. But, let’s see.. Ternyata hidayah Allah itu memang tak
terduga.
Saya masih ingat, saat itu saya duduk di bangku kelas 2 SMP.
Guru saya sedang menjelaskan tentang keutamaan memakai jilbab, kenapa wanita
itu diwajibkan untuk memakai jilbab. Namun bukan bagian ini yang mampu
menggerakkan hati saya, ada satu penjelasan lain yang mampu
membuat saya merenung.
Guru saya : “Taukah nak? Ada satu perumpamaan yang bisa kita
ambil hikmahnya..”
Saya : “.....” (menyimak)
Guru saya : “Kalo kita pergi ke pasar, ada dua jenis kue
yang bisa kita lihat. Kue yang terbungkus dengan rapi, dan kue yang dibiarin
terbuka hingga lalat bisa menempel diatasnya.”
Saya : (semakin serius menyimak)
Guru saya : “Kira-kira diantara dua jenis kue tadi, mana
yang akan kita pilih?”
Teman-teman satu kelas : “Kue yang terbungkus rapi, pak..”
(jawab kami serempak)
Guru saya : “Nah kenapa
kog kita milih kue yang terbungkus rapi, bukannya yang dibiarkan
terbuka? Kira-kira seperti itulah perumpamaan bagi seorang wanita yang
mengenakan jilbab.”
Saya berpikir keras saat itu.
1 detik. Ya jelas milih yang terbungkus rapi-lah karena
terjamin kualitasnya.
2 detik. Kalo milih yang dibiarin terbuka, jelas ga mau. Kan
kotor tuh, kena debu ato lalat.
3 detik. Jadi kalo diliat dari segi kualitas, jelas masih
lebih bagus kue yang terbungkus rapi.
4 detik. MAKJLEB!!
Saya mengangguk dalam hati. Merasa
tertampar dengan keras. Masuk akal juga analogi yang diberikan guru saya ini.
Kalo saya ga berjilbab maka saya
termasuk ke dalam jenis kue yang kena debu dan lalat tadi alias tidak terjamin
kualitasnya, karena siapapun bisa melihat aurat saya yang terbuka.
Kalo saya berjilbab, maka saya
termasuk ke dalam jenis kue yang spesial, yang terjamin kualitasnya, karena saya
menutup aurat dari pandangan orang-orang yang belum halal untuk melihatnya.
Ya, itu menjadi pilihan bagi saya
saat itu. Ingin menjadi yang spesial terjamin kualitasnya ato ingin
menjadi yang terbuang?
Akhirnya kuputuskan saat itu juga.
Bismillah... Saya ingin jadi yang spesial, ya Allah. Engkau-lah yang menjadi
saksi atas komitmen hamba ini. Kelas 2 SMP. Ya, saat itulah saya
“benar-benar” memulai untuk berjilbab atas kemauan saya sendiri. Di dalam sekolah maupun luar sekolah.
Hingga SMA sampai kuliah sekarang ini. Dan semoga tetap istiqomah hingga
seterusnya.. Amin.
***
Itulah pengalaman berhijab saya.
My Hijab Story. Bagaimana dengan pengalamanmu?
Setelah dipelajari lebih dalam,
ternyata ajaran-ajaran Islam itu memang indah. Tak ada aturan yang Allah
berikan yang akan merugikan manusia. Justru malah memberi manfaat yang lebih besar
bagi hamba-Nya yang melaksanakannya.
Terima kasih ya Allah telah
menunjuki hamba ke jalan-Mu yang lurus.
Dengan cara-Mu yang super duper
indah.
Harrah's Cherokee Casino & Hotel - Mapyro
BalasHapusFind the best Harrah's Cherokee 밀양 출장마사지 Casino & Hotel prices online. and 부산광역 출장안마 Harrah's Cherokee Casino & Hotel in North 강릉 출장마사지 Carolina, TN, a 광양 출장샵 4.1 김천 출장안마 mi (5 km) walk