Uda nonton film 99 Cahaya di
Langit Eropa? Recommended banget buat kamu-kamu yang suka nonton film and
pengen mempelajari islam lebih dalam. Cerita dari film ini beda dengan lain.
Ada hikmah tersendiri yang bisa kita ambil, tentang perjuangan seorang muslim
yang mempertahankan keyakinannya di negara asing.
But, postingan kali ini sama
sekali bukan tentang review film. Bukan. Sama sekali bukan. Aku hanya pengen
cerita tentang pengalaman pribadiku yang kurang lebih hampir sama dengan film
tersebut.
Kalo film ini berjudul “99
Cahaya di Langit Eropa”, maka aku menamai kisahku ini dengan “Setitik Cahaya di
Langit UBAYA”. Kenapa cahaya? Dan Kenapa UBAYA? Well, UBAYA adalah nama kampusku.
Kampus yang penghuninya mayoritas nonmuslim. Kampus yang notabene hanya menjadi
pilihan alternatif bagi para pemburu ilmu. Kampus yang terkenal karena biaya
kuliahnya.
Kampus ini kampus UBAYA.
Namun dengan segala
kekurangannya itu, ada setitik cahaya yang kutemukan dan kurasakan disini.
Setitik cahaya yang tidak sembarang orang bisa menemukannya. Cahaya kasat mata
yang bersinar terang.
***
Masih teringat jelas tentang
bagaimana perasaan takutku ketika pertama kali masuk kuliah di kampus ini.
SYOK.
SYOK karena lingkungannya yang
180 derajat berbeda dengan lingkungan SMA-ku.
SYOK karena muslim disini
sangat minoritas.
SYOK karena hanya ada 6 orang
muslim (termasuk aku) di angkatan jurusanku.
SYOK karena aku satu-satunya yang berjilbab diantara 80
orang tersebut.
Rasa-rasanya aku ingin mundur
dan memilih tempat kuliah yang lain. Sempat menyesal kenapa aku tidak meminang
Universitas Brawijaya saja sebagai tempat kuliahku (padahal aku diterima SNMPTN
disana). Tapi lagi-lagi aku teringat dengan solat istikhoroh yang uda aku
lakukan sebelumnya. Petunjuk Allah yang membuatku rela untuk memilih UBAYA
ketimbang UNBRA. Ya, kalo keinget ini aku langsung berpositif thinking kembali
: “Pasti.. Pasti ada alasan kenapa Allah
menunjukkanku untuk kuliah disini. Pasti.. Pasti ada ‘sesuatu’ yang ingin Allah
sampaikan ke aku.”
Lagipula, bukankah Allah
sebaik-baik Perencana? Oke, kuputuskan untuk bertahan saat itu.
Sebagai mahasiswa baru yang
masih labil, banyak keluh kesah yang ingin aku utarakan sebenarnya. Ya,
beberapa kali hati menjerit karena ketidaknyamanan yang kurasakan di kampus ini.
Masa-masa pertama ospek, masa-masa pertama kuliah yang bagiku semakin
memperjelas identitasku yang minoritas disini. Aku tidak menyalahkan lingkungan,
mereka para nonmuslim itu baik-baik kog, namun aku sendiri yang merasa kurang
bisa beradaptasi. Aku sendiri yang menolak kenyataan ini. Menolak kenyataan
berada dikampus yang muslimnya minoritas. Persis! Kuliah disini ibarat kuliah
di Hongkong.
Saat itu aku ga tau harus
bercerita ke siapa, ingin cerita ke orangtua tapi aku tidak ingin memberatkan
mereka. Aku selalu ingat bahwa ayahku paling tidak suka melihat anaknya
mengeluh, ayahku selalu ngasih nasehat kalo kita harus kuat nerima ujian hidup,
hadapi dengan tindakan bukan tangisan. Jadi, hal ini lah yang mengurutkan
niatku untuk bercerita ke ortu..
So, akhirnya aku mencari
tempat pelarian. Dan tempat pelarianku ini berujung pada CAHAYA yang pertama,
yaitu sebuah bangunan berukuran 9 x 9 meter bernama masjid Al-Hidayah.
Masjid ini kecil. Kecil untuk
ukuran sebuah masjid. Sungguh, kalo dibandingkan dengan kampus lain, masjid
Al-Hidayah UBAYA ini hanya seukuran toiletnya masjid ITS. Kecil banget kan? Katanya
sih, dari jaman dulu sampe sekarang ukurannya tetep segitu, kagak berubah. Ya
mungkin karena kampus ini multicultural, jadi agak susah kalo mau diperbesar.
Masjid ini kecil tapi istimewa
bagiku. Istimewa karena bercahaya, sehingga mampu menarikku kesana. Sela-sela
jeda sholat dhuhur dan ashar aku akan berlari kesini, melepaskan keluh kesah
yang sudah menumpuk di otak. Ya, disini adalah sebaik-baiknya tempat mengadu,
karena aku bisa mengadu sepuas-puasnya pada Allah.
Entah kenapa sholat tiba-tiba
kerasa jadi khusyuk. Aku ingin Allah mendengar semua keluh kesahku. Dan aku
yakin Allah pasti Maha Mendengar semua yang aku utarakan saat itu. Ya, pasti.
Ketika mengadu kepada-Nya aku merasa seperti setitik pasir ditengah luasnya
daratan UBAYA. Ada ketenangan yang kurasakan ketika sholat disini. Aku lega,
karena aku punya tempat untuk mengadu.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Q.S Ar-Ra'd : 28)
Dan benar, seketika keresahan
hilang. Aku punya Allah sebagai pegangan. Ujian yang akan kuhadapi kedepan
selama kuliah, aku rasa aku bisa melewatinya kalo aku berpegangan pada Allah.
Selain itu, ada hal lain yang
aku suka dari masjid ini. Aku suka ngeliat pemandangan orang keluar masuk
tempat wudhu, memakai mukena kemudian bersimpuh pada-Nya. Pemandangan ini entah
kenapa bisa menghibur hatiku. Ya, setidaknya aku merasa bahwa aku tidak
sendirian disini. Aku bukan satu-satunya muslim disini.
Ya, CAHAYA pertama itu adalah
Masjid Al-Hidayah.
(bersambung...)
Assalam'mualaikum
BalasHapussalam kenal mbak ,
namaku akbar , mahasiswa baru ubaya tahun 2015
dari semua postingan dengan tema ubaya yg udah aku baca , punyanya mbak yg paling menarik , di lanjut dong mbak postingan "setitik cahaya di langit ubaya"
kalau menurut sudut pandang aku , kita sebagai minoritas harus nerima salam welcome dari mayoritas . Sebaiknya kita menjalin Hubungan sosial yg baik sama mereka mayoritas yg terpenting kita tetap berpegang teguh pada keyakinan agama alloh
part 2nya di tunggu ...........
BalasHapusSekarang mbak udh gak aktif blog lagi ? Udah lulus ya mbak skrg ? Btw ada kisah2 pengalaman hidup lain kah sbg mhs muslim di Ubaya ?
BalasHapus