Kamis, 09 Januari 2014

Setitik Cahaya di Langit UBAYA (part 1)

Uda nonton film 99 Cahaya di Langit Eropa? Recommended banget buat kamu-kamu yang suka nonton film and pengen mempelajari islam lebih dalam. Cerita dari film ini beda dengan lain. Ada hikmah tersendiri yang bisa kita ambil, tentang perjuangan seorang muslim yang mempertahankan keyakinannya di negara asing.

But, postingan kali ini sama sekali bukan tentang review film. Bukan. Sama sekali bukan. Aku hanya pengen cerita tentang pengalaman pribadiku yang kurang lebih hampir sama dengan film tersebut.

Kalo film ini berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa”, maka aku menamai kisahku ini dengan “Setitik Cahaya di Langit UBAYA”. Kenapa cahaya? Dan Kenapa UBAYA? Well, UBAYA adalah nama kampusku. Kampus yang penghuninya mayoritas nonmuslim. Kampus yang notabene hanya menjadi pilihan alternatif bagi para pemburu ilmu. Kampus yang terkenal karena biaya kuliahnya.


Kampus ini kampus UBAYA.

Namun dengan segala kekurangannya itu, ada setitik cahaya yang kutemukan dan kurasakan disini. Setitik cahaya yang tidak sembarang orang bisa menemukannya. Cahaya kasat mata yang bersinar terang.

***

Masih teringat jelas tentang bagaimana perasaan takutku ketika pertama kali masuk kuliah di kampus ini. SYOK.

SYOK karena lingkungannya yang 180 derajat berbeda dengan lingkungan SMA-ku.
SYOK karena muslim disini sangat minoritas.
SYOK karena hanya ada 6 orang muslim (termasuk aku) di angkatan jurusanku.
SYOK karena  aku satu-satunya yang berjilbab diantara 80 orang tersebut.

Rasa-rasanya aku ingin mundur dan memilih tempat kuliah yang lain. Sempat menyesal kenapa aku tidak meminang Universitas Brawijaya saja sebagai tempat kuliahku (padahal aku diterima SNMPTN disana). Tapi lagi-lagi aku teringat dengan solat istikhoroh yang uda aku lakukan sebelumnya. Petunjuk Allah yang membuatku rela untuk memilih UBAYA ketimbang UNBRA. Ya, kalo keinget ini aku langsung berpositif thinking kembali : “Pasti.. Pasti ada alasan kenapa Allah menunjukkanku untuk kuliah disini. Pasti.. Pasti ada ‘sesuatu’ yang ingin Allah sampaikan ke aku.”

Lagipula, bukankah Allah sebaik-baik Perencana? Oke, kuputuskan untuk bertahan saat itu.

Sebagai mahasiswa baru yang masih labil, banyak keluh kesah yang ingin aku utarakan sebenarnya. Ya, beberapa kali hati menjerit karena ketidaknyamanan yang kurasakan di kampus ini. Masa-masa pertama ospek, masa-masa pertama kuliah yang bagiku semakin memperjelas identitasku yang minoritas disini. Aku tidak menyalahkan lingkungan, mereka para nonmuslim itu baik-baik kog, namun aku sendiri yang merasa kurang bisa beradaptasi. Aku sendiri yang menolak kenyataan ini. Menolak kenyataan berada dikampus yang muslimnya minoritas. Persis! Kuliah disini ibarat kuliah di Hongkong.

Saat itu aku ga tau harus bercerita ke siapa, ingin cerita ke orangtua tapi aku tidak ingin memberatkan mereka. Aku selalu ingat bahwa ayahku paling tidak suka melihat anaknya mengeluh, ayahku selalu ngasih nasehat kalo kita harus kuat nerima ujian hidup, hadapi dengan tindakan bukan tangisan. Jadi, hal ini lah yang mengurutkan niatku untuk bercerita ke ortu..

So, akhirnya aku mencari tempat pelarian. Dan tempat pelarianku ini berujung pada CAHAYA yang pertama, yaitu sebuah bangunan berukuran 9 x 9 meter bernama masjid Al-Hidayah.

Masjid ini kecil. Kecil untuk ukuran sebuah masjid. Sungguh, kalo dibandingkan dengan kampus lain, masjid Al-Hidayah UBAYA ini hanya seukuran toiletnya masjid ITS. Kecil banget kan? Katanya sih, dari jaman dulu sampe sekarang ukurannya tetep segitu, kagak berubah. Ya mungkin karena kampus ini multicultural, jadi agak susah kalo mau diperbesar.

Masjid ini kecil tapi istimewa bagiku. Istimewa karena bercahaya, sehingga mampu menarikku kesana. Sela-sela jeda sholat dhuhur dan ashar aku akan berlari kesini, melepaskan keluh kesah yang sudah menumpuk di otak. Ya, disini adalah sebaik-baiknya tempat mengadu, karena aku bisa mengadu sepuas-puasnya pada Allah.

Entah kenapa sholat tiba-tiba kerasa jadi khusyuk. Aku ingin Allah mendengar semua keluh kesahku. Dan aku yakin Allah pasti Maha Mendengar semua yang aku utarakan saat itu. Ya, pasti. Ketika mengadu kepada-Nya aku merasa seperti setitik pasir ditengah luasnya daratan UBAYA. Ada ketenangan yang kurasakan ketika sholat disini. Aku lega, karena aku punya tempat untuk mengadu.

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Q.S Ar-Ra'd : 28)

Dan benar, seketika keresahan hilang. Aku punya Allah sebagai pegangan. Ujian yang akan kuhadapi kedepan selama kuliah, aku rasa aku bisa melewatinya kalo aku berpegangan pada Allah.

Selain itu, ada hal lain yang aku suka dari masjid ini. Aku suka ngeliat pemandangan orang keluar masuk tempat wudhu, memakai mukena kemudian bersimpuh pada-Nya. Pemandangan ini entah kenapa bisa menghibur hatiku. Ya, setidaknya aku merasa bahwa aku tidak sendirian disini. Aku bukan satu-satunya muslim disini.


Ya, CAHAYA pertama itu adalah Masjid Al-Hidayah.

(bersambung...)

3 komentar:

  1. Assalam'mualaikum
    salam kenal mbak ,
    namaku akbar , mahasiswa baru ubaya tahun 2015

    dari semua postingan dengan tema ubaya yg udah aku baca , punyanya mbak yg paling menarik , di lanjut dong mbak postingan "setitik cahaya di langit ubaya"

    kalau menurut sudut pandang aku , kita sebagai minoritas harus nerima salam welcome dari mayoritas . Sebaiknya kita menjalin Hubungan sosial yg baik sama mereka mayoritas yg terpenting kita tetap berpegang teguh pada keyakinan agama alloh

    BalasHapus
  2. part 2nya di tunggu ...........

    BalasHapus
  3. Sekarang mbak udh gak aktif blog lagi ? Udah lulus ya mbak skrg ? Btw ada kisah2 pengalaman hidup lain kah sbg mhs muslim di Ubaya ?

    BalasHapus

Sangat diperbolehkan bagi kamu-kamu yang pengen comment ato kasih masukan buat tulisan saya :)